Khawatir Keuangan Negara Jebol, Investor Pantau APBN Jokowi

Agen13 "Pengelolaan keuangan negara menjadi perhatian pemerintahan Presiden Joko
Widodo (Jokowi) menjelang akhir tahun. Setelah diketahui proyeksi
realisasi penerimaan pajak yang meleset dari target mendorong
pembengkakan defisit anggaran.
Dian Ayu Yustina, Ekonom PT Bank
Danamon Tbk (BDMN), menilai investor sangat memantau kesigapan
pemerintah dalam pengelolaan APBN-P 2015. Khususnya pada defisit
anggaran yang di awal asumsinya adalah 1,9% dari Produk Domestik Bruto
(PDB) tetapi berpotensi melebar.
"Bila defisit melebihi batas 3%
PDB seperti yang diatur dalam UU Keuangan Negara, itu bisa menjadi
sentimen negatif bagi investor," tegasnya kepada detikFinance, Jumat (6/11/2015).
Namun,
Dian menyebutkan saat ini sentimen negatif tersebut belum terlihat di
kalangan investor. Menurutnya, pemerintah masih memiliki banyak peluang
untuk mengendalikan defisit pada batas aman.
"Selama pemerintah bisa menjalin komunikasi yang baik, investor nggak akan worry. Sejauh ini masih belum ada (sentimen negatif) karena masih ada sumber cukup untuk menanggulangi," papar Dian.
Dengan
defisit yang sangat mungkin melebar, lanjut Dian, pembiayaan dari utang
adalah pilihan yang paling memungkinkan. Namun, pemerintah tetap harus
cermat dalam menarik utang baru, jangan sampai kemudian justru terlalu
membebani APBN ke depan.
"Kalau defisit berlebihan, pilihannya
kalau nggak menerbitkan surat utang atau menggunakan pinjaman
multilateral atau bilateral. Kemudian ada SAL (Sisa Anggaran Lebih) juga
yang bisa dipergunakan. Jadi masih cukup besar untuk pemerintah
melakukan kontigensi," tukasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar